Rabu, 24 Juli 2013

Analisis Novel Menebus Dosa


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Salah satu jenis karya sastra yang menarik untuk dikaji ialah novel. Pengkajian terhadap salah satu jenis karya sastra tersebut dimaksudkan selain untuk mengungkapkan nilai estetis dari jalinan keterikatan antar unsur pembangunan karya satra tersebut, juga diharapkan dapat mengambil nilai-nilai amanat di dalamnya. Nilai-nilai amanat itu merupakan nilai-nilai universal yang berlaku di dalam masyarakat seperti nilai moral, etika, religi. Nilai-nilai amanat itu tercermin dalam tokoh cerita, baik melalui deskripsi pikiran, maupun perilaku tokoh.
Novel selain untuk di nikmati juga untuk dipahami dan di manfaatkan oleh pembaca. Dari sebuah novel dapat diambil banyak manfaat. Karya satra (novel) menggambarkan pola pikir masyarakat, perubahan tingkah laku masyarakat, tata nilai dan bentuk kebudayaa lainnya,  karya sastra merupakan potret dari segala aspek kehidupan masyarakat. Pengarang menyodorkan karya satra sebagai media alternatif untuk menyampaikan kejadian sosial masyarakat pada zamanya.
Memilih  Novel Menebus Dosa yang menceritakan kehidupan masyarakat pegunungan pada zaman dahulu. Dengan kisah percintaan dan tragedi pembunuhan, ditambah  lagi cerita tentang seorang wanita yang tidak bisa menjaga keperawanaannya yang akhirnya di usir oleh orang tuanya, kejadian yang terjadi di latar pegunungan dekat kota Betawi, rupanya banyak terjadi di masa sekarang meskipun latar waktu sangat berbeda.

1.2    Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan di atas maka dapat di rumuskan masalah sebagai berikut.
1.2.1 Bagaimana cerita dari novel ini?
1.2.2 Apa saja unsur intrinsik dalam novel ini ?
1.2.3 Unsur ekstrinsik apakah yang mempengaruhi novel?
1.2.3 Apa saja relevansi novel ini dengan kehidupan sehari-hari ?

1.3    Tujuan
Tujuan penulisan karya tulis ini dibuat supaya pembaca dapat lebih mengerti dan memahami mengenai  novel Menebus Dosa beserta unsur intrinsik dan ekstrinsiknya. Pembaca juga dapat mengambil amanat setelah memahami isi novel. Selain itu karya tulis ini dibuat untuk memenuhi tugas akhir Apresiasi Prosa, yaitu menganalisis novel.

1.4    Manfaat
Dari hasil analisis novel Menebus Dosa ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh antara lain.
1.4.1        Dapat digunakan untuk mengembangkan penelitian terhadap karya satra lebih lanjut.
1.4.2        Dapat memberikan gambaran kehidupan masyarakat pada sekitar tahun 1932.
1.4.3        Dari karya sastra yang telah dikaji ini kita dapat memperluas wawasan pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman yang mendalam tentang kehidupan sosial masyarakat di daerah pegunungan dekat betawi.





BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Identitas Buku
Judul Buku      : Menebus Dosa
Penulis             : Aman Datuk Madjiondo
Penerbit           : Balai Pustaka, Jakarta.
Cetakan           : 4, 2001
Tebal Buku      : 104 halaman

2.2  Analisis Unsur Intrinsik

2.2.1        Alur
2.2.1.1  Jenis Alur
Jenis alur yang digunakan dalam novel Menebus Dosa adalah alur mundur atau flashback karena dalam cerita tersebut diawali dengan datangnya tokoh saya ke daerah pegunungan yang kemudian bertemu dengan anak kecil dan membawanya ke neneknya yang mata duitan untuk ditenung, namun kemudian nenek tua itu justru bercerita tentang masa lalunya dan masa lalu cucunya. Dan  cerita selanjutnya merupakan cerita masa lalu nenek tua  hingga ia menjadi orang yang mata duitan dan sebatangkara hidupnya hanya dengan satu orang cucu tanpa ada saudara.


3
 
2.2.1.2  Struktur Alur
a.      Eksposisi/Perkenalan
Kisah novel menebus dosa jika diurutkan sesuai kronologinya diawali dengan si Iti /  Siti Juhro yang merasa penasaran terhadap Hasan yang menurut cerita dari gadis desa merupakan seorang yang alim dan selalu menolak wanita, Iti yang cantik baru pindah dari bogor, dia penasaran dan berniat ingin menggoda Hasan. Dan rupanya Hasan tergoda hingga akhirnya Hasan bersama Mak Iyot ibunya melamar Iti, dan dengan beberapa pertimbangan ayah Iti setuju.
Dibuktikan dengan: “Hasan jika engaku memang sungguh –sungguh jangan minta pada saya, pergilah pada bapak saya”. (Menebus Dosa, hal. 29)
“Seba sekarang tentu susah, karena kita belum sedia apa-apa. Menjelang itu kita ikat saja dengan pertunangan”. (menebus dosa, hal. 32)

b.      Konflik
Konflik terjadi saat Hasan mendengar percakapan Iti dengan Karta, sehingga Hasan merasa kecewa akhirnya memutuskan pertunangan dengan Iti, meskipun ia masih sanagat mencintai Iti.
Dibuktikan dengan: “Iti siapa yang bersama –sama engkau tadi?” tanya si Hasan kemudian. (Menebus Dosa, hal. 16)
Sebab itu lebih baik kita putuskan saja pertalian kita, dan sehingga ini ke atas, biarlah kita sebagai bersaudara saja. (Menebus Dosa, hal. 19)

c.       Klimaks
Klimaks terjadi saat Hasan tidak terima setelah mendengar perbuatan Karta terhadap Iti, sehingga terjadi perkelahian antara Hasan dan Karta, hingga akhirnya Karta tewas dengan jatuh ke dalam jurang bersama topi, kelewang dan mantel Hasan, sehingga Hasan merasa sangat takut dan menyesal terhadap perbuatannya.
Dibuktikan dengan: Setan! Seru si Hasan sambil melompak kehadapan Karta, lalu dicekiknya leher anak muda itu, sehingga matanya terbeliak. (Menebus Dosa, hal. 53)
Akan tetapi dirabanya kepalanya, barulah ia tahu topinya tak ada lagi. (Menebus Dosa, hal. 63)

d.      Anti Klimaks
Anti klimaks dalam novel ini adalah saat Iti diusir ayahnya setelah mengatakan bahwa dirinya telah mengandung lima bulan bersama Karta yang telah tewas, dan Itipun diusir dari rumahnya.
Dibuktikan dengan: “ Ya ayah, janganlah saya diusir ayah! Ibu saya dikubur disini dan saya hendak dikubur disini pula. Kasihanilah ayah! (Menebus Dosa, hal. 72)

e.       Resolusi/Penyelesaian
Penyelesaian cerita dimulai dari mimipi Mak Iyot yang didatangi Hasan yang berpesan agar berbuat baik kepada Iti, sehinnga Mak Iyotpun mencari Iti ke kota hingga bertemu dan menjaganya hingga Iti melahirkan seorang anak laki-laki namun Iti meninggal setelah melahirkan dan anaknya kini di rawat oleh Mak Iyot dan di besarkan di pegunungan Gandamana. Yang diceritakan pada awal novel Menebus Dosa seorang anak kecil yang hanya tinggal bersama neneknya yang sudah sangat tua, tanpa ada keluarga, karena memang Mak Iyot membawa anak Iti dan merawatnya di pegunungan terpencil.
Dibuktikan dengan: Maka berangkatlah ia dari Betawi menuju ke tanah pegunungan membawa budak letik itu. Tetapi ia tidak balik lagi ke desanya, karena ia takut, boleh jadi bapak si Iti lembut hatinya kembali dan anak itu dimintanya. Tidak Mak Iyot tidak mau memberikan anak itu, biarpun kepada siapapun juga. Karena itulah pergilah ia ke desa Gandamana, yang letaknya di kaki gunung Pangrango, jauh disebelah atas desanya. (Menebus Dosa, hal. 100)

2.2.2        Tokoh dan Penokohan
a.       Tokoh Utama
1)      Mak Iyot
·         Sangat menyayangi anaknya Hasan, yang dibuktikan secara analitik karena jelas sekali dalam novel menyebutkan sifat Mak Iyot yang sangat menyayangi anaknya, dibuktikan dengan Kasih sayangnya kepada si Hasan sangat tertumpah. Segala hak milik yang ada padanya diuntukannya kepada si Hasan semuanya. (Menebus Dosa, hal. 21)
·         Sangat menyayangi cucunya, yang disampaikan secara dramatik dari percakapan Mak Iyot, dibuktikan dengan: Uang itu bukan untuk saya, saya cari untuk cucu saya. Bagi saya sendiri tak perlu lagi. Keperluan saya sudah sedia kain putih tiga kali tujuh hasta dan papan dua tiga lembar”. (Menebus Dosa, 10)

2)      Hasan
·         Sangat menyayangi Iti, yang disampaikan secara dramatik dalam novel, dibuktikan dengan: Angat- angat dingin rasa hatinya kalau kalau tidak menampak wajah gadis itu sekali dalam dua hari. (Menebus Dosa, hal. 29)
·         Sangat mengasihi ibunya, dibuktikan dengan cara dramatik dari perkataan si Hasan sendiri yaitu: “ Ya, ibuku yang malang, keluhnya pula, bagaimanakah nasib ibu nanti sepeninggalan saya?”(Menebus Dosa, hal. 62)


3)      Siti Juhro/ Iti
·         Keras kepala, karena tidak mau dinasehati oleh Hasan mengenai sifat buruk Karta, sehingga akhirnya menyesal pada akhirnya, yang dibuktikan secara dramatik menggunakan percakapan antara Iti dan Hasan. Dibuktikan dengan: : Hai Hasan, engkau tak boleh mencerca orang dengan tak beralasan. Engkau tak tahu siapa dia.” “Saya tahu betul siapa dia. Mulai sejengkal dari tanah kami sudah berkenalan. Tetapi kalau engkau tak mau mendengarkan kata saya, cobakanlah!” (Menebus Dosa, hal. 18)
·         Angkuh dan sombong, karena merasa paling cantik dan telah lama tinggal di kota sehingga gayanya berlebihan dibuktikan secara analitik karena di dalam novel: . Dibuktikan dengan: Hanya sedikitlah salahnyagadis yang cantik itu, yaitu sifatnya yang angkuh dan sombong, tahu benar ia akan kecantikannya. (Menebus Dosa, hal. 27)
·         Cantik, berbadan ramping berkulit putih yang disampaikan secara analitik yaitu: Gadis itu amat cantik parasnya, badannya kecil dan ramping, kulitnya putih kuning, matanya hitam dan bagus, sedang rambutnya ikal berombak-ombak.

4)      Karta
·         Cakap, elok dan gagah dibuktikan secara analitik di dalam novel, sebagai berikut: Karta ialah seorang anak muda yang cakap, elok dan gagah. (Menebus Dosa, hal. 33)
·         Suka mempermainkan wanita, yang disampaikan secara analitik didalam novel: Gadis –gadis itu dengan mudah saja masuk perangkap Karta, untuk jadi permainannya, dan jika ia telah puas, ditinggalkannyalah dengan tiada peduli lagi. (Menebus dosa, hal. 33)

5)      Ayah Iti
·         Tegas, karena melarang Iti bergaul dengan Karta, yang dibuktikan secara dramatik pada: dengan segera anaknya dilarangnya bergaulan dengan si Karta. (Menebus Dosa, hal. 34)
·         Pemarah, sifat pemarahny sangat terlihat saat mengetahui Iti hamil, sehingga Iti diusir dari rumah, disampaikan secara analitik yaitu: Tiba-tiba berhamburlah kemarahan yang tiada terhingga-hingga dari mulut Pak Iti. (Menebus Dosa, hal. 71)

b.      Tokoh tambahan
1)      Kakak Iti
·         Baik hati dan pemikiran dewasa, karena kakak Iti bisa menahan amarah atas kejadian yang menimpa adiknya dan kemudian berusaha membantunya yang disampaikan secara dramatik melalui sikapnya, dibuktikan dengan: Mendengar ratap tangis adiknya itu, turunlah marah kakanya. Akhirnya iapun turut menangis pula bersama-sama. (Menebus Dosa, hal. 79)

2)      Asri / anak Iti
·         Baik hati yang disampaikan secara analitik melalui perkataan Neneknya: Memang dia seorang anak yang baik
(Menebus Dosa, hal. 10)
·         Sangat menyayangi neneknya, disampaikan secara analitik dari perkataan neneknya yaitu: Dia amat sayang kepada saya, dan lagi dia itulah yang menahan saya hidup di dunia yang fana ini. (Menebus Dosa, hal. 10)
·         Rajin belajar dan pintar yang disampaikan secara analitik yaitu: Ia amat rajin belajar, sehingga ia jadi seorang murid yang pandai di kelasnya. (Menebus Dosa, 103)
3)      Juragan / Aku (tokoh aku pada awal novel)
·         Baik hati, yang disampaikan secara dramatik di dalam novel Menebus Dosa, yaitu dari tutur kata dan kesabarannya mencari rumah saudaranya, kemudian ia bertemu anak kecil dan memberinya upah jika mau mengantarnya ke tujuan, menandakan sifatnya yang baik hati. Dibuktikan dengan: Ujang seru juragan dengan ramah (Menebus Dosa, hal 4)

2.2.3        Latar
a.      Waktu
Waktu secara global novel menebus dosa adalah sekitar tahun 1932, karena jelas sekali di dalam novel disebutkan bahwa kisah tersebut ditulis saat Jakarta masih bernama betawi. Selain itu banyak kisah didalam novel yang sangat menggambarkan zaman dahulu diantaranya umur Iti yang baru lima belas tahun namun sudah mau menikah. Kemudian uang yang dipakai dalam novel belum memakai nominal rupiah, melainkan saketip, se-sen, se-benggol, se-tali atau se-perak. (Dibuktikan dengan: Berapa se itu? Tanya saya dengan heran. Misalnya se-sen, se-benggol, se-ketip, se-tali, atau se-perak!” (Menebus Dosa, 6)

b.      Tempat
Tempat novel Menebus Dosa secara global adalah di daerah pegunungan di pinggiran kota Betawi. Dibuktikan secara langsung dengan Saya menuju kesebuah desa di kaki Gunung Pangrango, lebih kurang 80 km jauhnya dari betawi.
Jika dilihat dari pekerjaan para tokoh juga dapat menggambarkan latar tempat yaitu pekerjaan Mak Iyot sebagai petani dan ayah Iti yang seorang tukang kayu, memperjelas latar tempat novel Menebus Dosa merupakan suasana desa di kaki gunung.


c.       Suasana
Suasana dominan novel menebus dosa adalah suasana kesedihan dan keharuan yang dialami Mak Iyot yang ditinggal anak semata wayangnya dan harus menebus dosa anaknya yang sangat disayanginya. Dibuktikan dengan: Sesudah itu sunyi senyaplah rumah kecil itu, hanya sedu sedan ibu yang malang itu saja yang terdengar. (Menebus Dosa, hal. 38)
Semenjak itu tiada pernah ia pulang-pulang lagi ke desanya. Menerima surat itu Mak Iyot bagai menerima surat mati. (Menebus Dosa, hal. 39)
Malam itu adalah malam yang sesedih sedihnya dalam penghidupan Mak Iyot dua beranak. (Menebus Dosa, hal. 65)
Si Iti meniarap diharibaan kakaknya itu, lalu menagis tersedu sedu. (Menebus Dosa, hal. 78)
Demikian bukti bukti yang ada dalam novel yang sebagian besar bercerita tentang kesedihan dan keharuan.

2.2.4        Sudut Pandang
Sudut pandang novel Menebus Dosa adalah orang ketiga terbatas, karena novel ini sebenarnya di ceritakan oleh seorang juragan dari betawi yang mendapat cerita langsung dari seorang Nenek tua yang mempunyai satu cucu, yang bercerita mengapa ia sampai begitu kikir dan mata duitan. Yang ternyata kisah hidupnya begitu menyedihkan. Dan juragan yang berniat untuk bertenunglah yang menceritakan kisah hidup Mak Iyot, namun terbatas karena tidak leluasa sebagai penggerak cerita, pencerita hanya dapat menceritakan apa yang dapat diamati dari luar.
Dibuktikan dengan: Riwayat orang tua yang amat sedih itu, dan barangkali ada juga gunanya diketahui orang banyak , maka saya sususn sedapat-dapatnya sebagai tertera dibawah ini. (Menebus Dosa, hal. 12)

2.2.5        Gaya Bahasa
Gaya bahasa pada novel menebus dosa, hampir sama dengan novel -novel sekitar tahun 30an yang lain, yaitu masih banyak menggunakan bahasa perumpamaan, yang klise, pepatah, peribahasa, tapi menggunakan bahasa percakapan sehari–hari. Bahasanya juga terkesan kaku dan statis jika dibandingkan zaman sekarang, dan bahasanya  sangat santun. Dan novel ini sedikit menggunakan bahasa sunda kaarena latar tampatnya memang di pegunungan dekat bogor dan betawi.
Dibuktikan dengan: “Anak setan, Anak haram jadah! Katanya menolak Karta sekuat-kuatnya. (Menebus Dosa, hal. 15)
“Awas engkau! Katanya dengan mengancam.” (Menebus Dosa, hal15)
“Serahkanlah kepalamu kepada mulut harimau besar itu, supaya dikerkahnya. Pertolongannku jangan sekali –kali engkau harapkan nanti.” (Menebus Dosa, hal 20)  
Bukti di dalam novel menggunakan bahasa sunda adalah: “Saha, make suyuh-sayah mamalayuan? (Menebus Dosa, hal. 8)

2.2.6        Tema
Tema novel Menebus Dosa adalah cinta berujung petaka, karena sebenarnya kisah novel menebus dosa beserta konflik yang terjadi sebenarnya di dasari oleh  rasa cinta yang telah merubah semua keadaan yang ada. Dari perbuatan Hasan yang dilandasi rasa cinta, kemudian munculah masalah-masalah yang menimpa pada tokoh yang lain seperti Iti, Karta, Mak Iyot. Hingga akhirnya Mak Iyotlah yang harus menebus dosa anaknya.


2.2.7        Amanat
Amanat dalam novel ini sanagt banyak diantaranya sebagai berikut:
·         Harus memikirkan matang -matang sebelum bertindak
Karena perbuatan Hasan terhadap Karta yang tidak dipikirkan secara matang akibatnya membuat Hasan menyesal sepanjang hidunya dan membuat Emaknya yang sangat menyayanginya menjadi semakin menderita. Jadi sebelum kita berbuat sesuatu harus dipikirkan akibatnya dahulu. Amanat diambil dari kejadian saat Hasan membunuh Karta, yaitu “ pergilah engkau ke neraka!” seru si Hasan tiba-tiba, sambil dihentamkannya kepala Karta, yang menegadah meminta nyawa itu. Sekali lagi dihentamkannya maka terlepaslah tangan Karta dari ujung urat itu. (Menebus Dosa, hal 59)
·         Jangan mudah terpancing emosi
Karena Hasan tidak bisa mengontrol emosinya terhadap Iti, sehingga Hasan memutuskan tali pertunangannya, padahal jika Hasan berusaha menenangkan diri, mungkin lama kelamaan Iti juga akan tulus mencintai Hasan dan tau sendiri akan sifat Karta yang bajingan. Emosi Hasan juga telah mengakibatkan petaka bertambah duka, yaitu saat mendengar perbuatan Karta dari mulut Karta sekaligus Hasan tak bisa berpikir jernih dan langsung menghajarnya. Seandainya bisa menahan emosi maka Mak Iyot tidak akan menderita seperti akhir ceritanya. Dibuktikan dengan: Mendengar itu darah si Hasan mendidih di dadanya. (Menebus Dosa, hal. 52)
·         Jangan mementingkan diri sendiri
Maksudnya jangan mementingkan dirisendiri adalah sifat Hasan yang tidak pernah memikirkan emaknya jika ia tinggalkan begitu saja, Emaknya yang tak punya siapa-siapa lagi selain dirinya namun Hasan hanya mementingkan dirinya dan pergi sesuka hatinya, meskipun ia menyayangi emaknya.
Dibuktikan dengan: “Aduh nak, mengapa engkau lekas-lekas saja hendak meninggalkan ibu? Bukankah sore ada juga autobus yang ke Betawi? (Menebus Dosa, hal 47)
·         Sebagai wanita harus menjaga kehormatannya
Kehormatan bagi seorang wanita adalah yang paling utama, namun Iti tak bisa menjaga kehormatannya maka akibatnya ia diusir dari rumahnya. Maka sebagai wanita hendaklah menjaga kehormatannya dan jangan mengumbar kecantikan kepada yang bukan muhrimnya. Yang diambil dari sifat buruk Iti. Akibatnya dapat dibuktikan dengan: Engkau bukan anaku! Engkau anak haram jada! Macam anak yang ada dalam perutmu itu! (Menebus Dosa, hal. 72)

2.3  Analisis Unsur Ekstrinsik

2.3.1        Biografi Pengarang
Aman Datuk Madjoindo atau yang lebih dikenal dengan Aman adalah sastrawan angkatan Balai Pustaka. Ia dilahirkan di Supayang, Solok, Sumatera Barat pada tahun 1896 dan meninggal dunia di Sirukam, Solok, Sumatera Barat pada 6  Desember 1969. Sejak tahun 1920, Aman bekerja di Balai Pustaka sebagai korektor, kemudian menjadi ajudan redaktur, dan berlanjut menjadi redaktur. Ia juga pernah menjadi direktur penerbit Balai Pustaka.
Pendidikan dan kariernya Aman pernah mengenyam pendidikan di HIS di Solok, serta Kweekschool (Sekolah Raja) di Bukittinggi. Setelah lulus sekolah dia sempat menjadi guru di Padang di tahun 1919 sebelum pindah ke Jakarta dan bekerja di Balai Pustaka pada tahun 1920. Pada awal masuk Balai Pustaka Aman pertama kali bekerja sebagai sebagai korektor, sebelum menjadi ajudan redaktur dan kemudian redaktur. Dia juga pernah menjabat direktur penerbit Balai Pustaka.
Karyanya yang terkenal adalah novel anak-anak Si Doel Anak Betawi yang ia tulis ditahun 1956. Novel atau bacaan untuk anak-anak ini pernah dibuat film layar lebar oleh almarhumm Sjuman Djaja pada tahun 1972. Dari novel ini pulalah Rano Karno terinspirasi untuk membuat sinetron yang berjudul Si Dul Anak  Sekolahan.
Aman Datuk Madjoindo telah mengarang lebih dari 20 buku berbagai cerita diantaranya adalah, Menebus dosa yang ia tulis tahun 1932, Rusmala Dewi yang ia tulis bersama S. Hardjosoemarto pada tahun 1932, Sebabnya Rafiah Tersesat yang juga ia tulis bersama S. Hardjosoemarto pada tahun 1934, Si Cebol Rindukan Bulan pada tahun 1934, Perbuatan Dukun pada tahun 1935 dan Sampaikan Salamku Kepadanya yang ia tulis pada tahun 1935.
Ia juga menulis karya Melayu lama dalam bentuk syair dan hikayat. Karyanya yang dalam bentuk syair antara lain, Sya’ir Si Banto Urai yang ia tulis pada tahun 1931 kemudian Syair Gul Bakawali pada tahun 1936. Sedangkan karyanya dalam bentuk hikayat adalah, Cerita Malin Deman dan Puteri Bungsu pada tahun 1932, Cindur Mata tahun 1951, Hikayat Si Miskin tahun 1958, Hikayat Lima Tumenggung tahun 1958 dan Sejarah Melayu yang ia tulis tahun 1959.  
2.3.2        Latar Belakang Psikologis
Jika dilihat dari psikologis pengarang yang pernah mengenyam pendidikan di HIS di Solok, serta Kweekschool (Sekolah Raja) di Bukittinggi, tentunya Aman memiliki pengetahuan jauh lebih tinggi dibandingkan anak-anak pada umumnya yang tak pernah berkesempatan mengenyam pendidikan. Setelah lulus sekolah dia sempat menjadi guru di Padang di tahun 1919 sebelum pindah ke Jakarta dan bekerja di Balai Pustaka pada tahun 1920. Pada awal masuk Balai Pustaka Aman pertama kali bekerja sebagai sebagai korektor, sebelum menjadi ajudan redaktur dan kemudian redaktur. Dia juga pernah menjabat direktur penerbit Balai Pustaka. Kemudian dari pengalamannya menjadi guru dan bekerja di Balai Pustaka itulah yang mempengaruhi karya-karyanya. Balai Pustakapun memperkenalkan karyanya kepada masyarakat luas.  
2.3.3        Latar Belakang Lingkungan
Latar belakang lingkungan seorang Aman Datuk Mudjiondo juga sanagat mempengaruhi karyanya. Aman berasal dari Sumatra sehingga banyak menulis hikayat-hikayat. Dan penulis pada masa itu paling banyak yang berasal dari Sumatra. Kemudian karena Aman berpindah ke Jakarta dan bekerja di Balai Pustaka, maka karya-karya selanjutnya banyak mengisahkan tetang masyarakat Betawi. Seperti halnya pada novel Menebus Dosa yang berlatar di Pegunungan Gandamana dekat betawi dan bogor.
2.3.4        Latar Belakang Kebudayaan
Latar belakang kebudayaan pengarang tidak terlalu terlihat jelas, namun dengan pekerjaannya di Balai Pustaka membuatnya banyak bersentuhan dengan karya-karya sastra. Sehingga pengetahuan di bidang sastra maupun kebudayaan baik. Kemudian karena tinggal di Betawi, kebudayaan masyarakat Betawi juga sangat mempengaruhi karya-karyanya. Seperti pada novel yang di sinetronkan yaitu si Doel anak sekolah kebudayaan masyarakat Betawi, begitu menonjol. Begitu juga Novel Menebus Dosa sendiri terpengaruh kebudayaan Betawi, karena latar yang digunakan juga di sekitar Betawi dan Jawa Barat. Sehingga cerita menggunakan bahasa bahasa betawi dan kadang bahasa sunda






BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
            Novel karya Aman Datuk Madjiondo yang terbit pertama kali pada tahun 1932 ini, dan berlatar di pegunungan sekitar Betawi dan Bogor sangat menggambarkan kehidupan masyarakat pada zaman itu di tambah dengan gaya bahasa yang juga khas membawa pembaca berimajinasi ke waktu pada novel itu. Novel Menebus Dosa yang menceritakan kisah cinta sederhana namun berakhir dengan kerumaitan dan kesedihan ini, juga dapat sebagai amanat bagi pembacanya.  

3.2 Saran
            Memperbanyak membaca karya karya sastra supaya kita bisa belajar kehidupan dan mengambil amanat yang terdapat dalam cerita.






16
 


DAFTAR PUSTAKA



Datuk Madjiondo, Aman. 2001. Menebus Dosa. Jakarta: Balai Pustaka.














LAMPIRAN

Sinopsis Novel Menebus Dosa
Mak Iyot marupakan seorang nenek yang sangat malang nasibnya,  yang akhirnya dia menceritakan kisah hidupnya sampai ia bisa menjadi nenek tukang tenung yang mata duitan dan hanya tinggal dengan satu cucu kapada seoarang juragan dari kota yang ia percayai.
Kisah ini diawali dari anak Mak Iyot satu-satunya yang sangat ia sayangi bernama Hasan jatuh cinta dengan anak juragan kayu bernama Siti Juhro atau Iti. Iti telah lama tinggal di Bogor bersama kakanya jadi gayanya melebihi anak gadis lainnya. Dia adalah seorang gadis yang genit sehingga suatu saat ia mengetahui tentang Hasan yang Alim dia ingin menggodanya, Hasanpun tergoda sampai akhirnya melamar Iti dan mereka bertunangan.
Namun pada suatu sore ketika Iti sedang ngobrol dengan Karta pemuda yang gagah dan tampan anak orang terpandang tapi kelakuannya banyak meresahkan masyarakat, terutama ia suka mempermainkan gadis desa, hasan melihatnya sehingga Hasan marah dan memutuskan pertunangannya dengan Iti dan memberin peringatan yang sangat tegas bahwa Karata adalah orang yang sangat jahat, namun Iti tidak percaya karena ia belum lama tinggal di pegunungan itu. Karena kijadian itu pula Hasan terguncang dan memutuskan berhenti berkerja dan pergi ke Betawi, Mak Iyot sangat sedih di tinggal anak semata wayangnya, setiap hari ia hanya duduk – duduk saja di pekarangan rumahnya. Beberapa kali Hasan mengiriminya surat, uang dan foto, hingga Mak Iyot melihat suratnya berulang ulang hingga dia hafal.
Sampai akhirnya pada suatu sore Hasan pulang dengan menggunakan pakaian tentara, Mak Iyot terkejut tidak percaya apa yang dilihatnya. Namun kedatangannya justru semakin menambah luka Mak Iyot, karena ia datang untuk berpamitan akan bertugas ke tempat yang lebih jauh lagi. Alangakah merananya hati Mak Iyot. Ia hanya bertemu anaknya sehari saja, kemudian berangkat lagi pada suatu senja yang menguning.
Saat dalam perjalanan Hasan berangkat lagi ke dinasnya, namun di jalan ia berhenti di rumah makan menunggu auto bis, namun kemudian ia mendengar percakapan Kaerta dengan teman-temannya. Karta berkata telah mengahamili Iti tapi ia tak mau tanggung jawab. Dan mengata ngatai Iti gadis murahan. Mendengar itu semua amarah Hasan tak bisa di bendung karena ia masih menyimpan sayang kepada Iti, Hasanpun berteriak pada Karta hingga akhirnya mereka berdua berkelahi sampai akhirnya Karata jatuh kejurang bersama topi dan perlengkapan baju Hasan. Karta meninggal dan Hasan kebingungan, ia pulang kerumahnya lagi bercerita kejadian itu kepada Mak Iyot, alangkah sedih hati Mak Iyot dengan kejadian ini mungkin ia akan lebih menderita lagi karena Hasan benar-benar tak pernah pulang lagi. Hasan pergi meningglkan Mak Iyot karena melarikan diri. Sajak saat itu Mak Iyot sering di datangi polisi yang  menggeledah rumahnya. Sungguh malang nasib Mak iyot.
Keadaan Iti tak jauh berbeda, karena hamilnya sudah semakin tua akhirnya tidak bisa ia sembunyikan lagi, ketika ayahnya mengetahuinya, ia diusir kemudian dengan hati yang sangat sedih ia berjalan meninggalkan kampung, saat melewati rumah Mak Iyot, Mak Iyot mengata-ngatainya dan mereka beradu mulut. Lalu Iti melanjutkan perjalanan ke Bogor hendak meminta bantuan pada kakanya, namun kandungannya sudah tidak bisa digugurkan karena janin sudah besar. Kemudian ia dianjurkan kakanya untuk mengasingkan diri ke Betawi.
Suatu malam Mak Iyot bermimpi seolah menyampaikan Hasan telah meninggal dan ia berpesan kepada Mak Iyot untuk merawat Iti dan anaknya yang dikandungnya untuk menebus dosa Hasan. Mak Iyot memahami mimpi itu bukan mimpi biasa, itu wasiat dari anaknya supaya dosanya sedikit diampuni oleh yang Maha Kuasa. Mak Iyotpun pergi mencari Iti, hingga akhirnya menemukannya, Iti merasa heran dengan perubahan sikap Mak Iyot, tapi Iti bersedia dirawat Mak Iyot. Hingga akhirnya anak yang dikandung Iti lahir namun Iti meninggal dunia.
Karena takut ayah kandung Iti akan mengambil anak Iti, kemudian Mak Iyot memutuskan untuk membawa anak Iti ke sebuah desa di pagunungan Gandamana yang lebih tinggi dari tempat tinggalnya dulu, Mak Iyot merawat anak Iti hingga kini ia telah bersekolah. Jadi harta yang dipunya Mak Iyot hanyalah cucnya itu, sehingga sebenarnya ia tak pernah butuh uang, uang itu hanya untuk cucunya itu.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar