Rabu, 24 Juli 2013

Analisis Novel Saman


BAB I
PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang
Salah satu jenis karya sastra yang menarik untuk dikaji ialah novel. Pengkajian terhadap salah satu genre karya satra tersebut dimaksudkan selain untuk mengungkapkan nilai estetis dari jalinan keterikatan antar unsur pembangunan karya satra tersebut, juga diharapkan dapat mengambil nilai-nilai amanat di dalamnya. Nilai-nilai amanat itu merupakan nilai-nilai universal yang berlaku di dalam masyarakat seperti nilai moral, etika, religi. Nilai-nilai amanat itu tercermin dalam tokoh cerita, baik melalui deskripsi pikiran, maupun perilaku tokoh.
Novel selain untuk di nikmati juga untuk dipahami dan di manfaatkan oleh masyarakat. Dari sebuah novel dapat diambil banyak manfaat. Karya satra (novel) menggambarkan pola pikir masyarakat, perubahan tingkah laku masyarakat, tata nilai dan bentuk kebudayaa lainnya,  karya sastra merupakan potret dari segala aspek kehidupan masyarakat. Pengarang menyodorkan karya satra sebagai media alternatif untuk menyampaikan kejadian sosial masyarakat pada zamanya.
Memilih  Novel Saman yang menceritakan kehidupan Saman yang diambil dalam latar pada abad ke-20 saat-saat akhir dari Orde Baru.Dan Saman ini juga mengambil tempat di Indonesia yang pemerintahannyadikepalai oleh Presiden Soeharto. Suasana dan peristiwa-peritiwa yangdiberikan dalam novel ini sama dan menyerupai keadaan pada masa yang sesungguhnya.

1.2    Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dijabarkan di atas maka dapat di rumuskan masalah sebagai berikut.
1.2.1 Bagaimana cerita dari novel ini?

1.2.2 Apa saja unsur intrinsik dalam novel ini ?

1.2.3 Apa saja relevasi novel ini dengan kehidupan sehari-hari ?

1.3    Tujuan
Tujuan penulisan karya tulis ini dibuat supaya pembaca dapat lebih mengerti mengenai  novel Saman dan unsur intrinsiknya. Pembaca juga dapat mengambil amanat setelah memahami isi novel. Selain itu karya tulis ini dibuat untuk memenuhi tugas Apresiasi Prosa.

1.4    Manfaat
Dari hasil analisis novel Saman ada beberapa manfaat yang dapat diperoleh antara lain.
1.4.1        Dapat digunakan untuk mengembangkan penelitian terhadap karya satra lebih lanjut.
1.4.2        Dapat memberikan gambaran kehidupan kehidupan seorang pastur dan kehidupan sosial pada zamanya.
1.4.3        Dari karya sastra yang telah dikaji ini kita dapat memperluas wawasan pengetahuan, pengalaman, dan pemahaman yang mendalam tentang kehidupan sosial masyarakat di daerah perkebunan karet.





BAB II
PEMBAHASAN

2.1  Identitas Buku
Judul Buku      : Saman
Penulis             : Ayu Utami
Penerbit           : Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta.
Cetakan           : 15, 2000
Tebal Buku      : 198 halaman

2.2  Sinopsis
Novel ini bercerita tentang kisah empat orang sahabat yang saling terkait dengan masa lalunya. Yakni Laila, Shakuntala, Cok, dan Yasmin. Mereka berempat bersahabat sejak SD. Mereka sama-sama mempunyai obsesi yang sama terhadap laki-laki. Yasmin, seseorang yang membenci guru dan Laila yang membenci laki-laki. Sementara, Cok tidak bisa menemukan apa yang harus ia benci. Kebencian Laila pada laki-laki lenyap ketika ia jatuh cinta pertama kali pada Wisanggeni yang kala itu sebagai mahasiswa seminari yang ditugaskan membimbing rekoleksi tentang kesadaran sosial di SMP mereka. Sayangnya, keluarga Minang Laila itu melihat putrinya bergaul dengan calon Pastor. Dan Yasmin yang Katolik juga tidak menyetujui itu. Namun, Yasmin pula yang sering membantu pertemuan Laila dengan Wis atas dasar peersahabatan. Semakin berjalannya waktu, semuanya tengah berubah. Laila tidak lagi mencintai Wisanggeni yang sudah mengganti nama menjadi Saman. Kali ini ia mencintai Sihar, seseorang yang sudah beristri. Laila paling kuat mempertahankan keperawanannya dibanding ketiga sahabatnya. Dia juga satu-satunya yang belum menikah.
 Yasmin seorang pengacara handal yang dengan senang hati selalu mebela pihak yang dirugikan tanpa harus meminta suatu imbalan yang besar. Yasmin telah menikah. Namun berbeda dengan Cok yang selalu berganti-ganti pasangan dan dikenal sebagai seorang yang binal. Shakuntala merupakan sahabat Laila, Yasmin, dan Cok yang tinggal di New York lantaran ia mendapat beasiswa di bidang seni tari. Ketiga sahabat ini mempunyai jiwa sosial yang tinggi dan mengakibatkan mereka terlibat dalam suatu masalah bersama Sihar dan Wissanggeni. Laila meminta Yasmin dan Wis untuk menolong Sihar menyelesaikan kasus salah seorang teman Sihar yang meninggal lantaran kecerobohan pimpinan mereka. Sihar dengan di bantu oleh Wis dan Yasmin yang seorang pengacara berusaha menuntaskan kasus tersebut. Laila dan Sihar menjadi sangat akrab lantaran kasus tersebut, hingga mereka pun merencenakan suatu kencan. Namun, kencan tersebut digagalkan oleh Sihar lantaran ia tidak tega terhadap keperawanan yang masih laila sandang.
Wisanggeni ditugaskan sebagai Pator paroki Parid yang melayani kota kecil Perabumulih dan Karang Endah, wilayah keuskupan Palembang. Sebelum sampai pada tempat tugasnya, ia menyempatkan diri ke bekas rumahnya 10 tahun silam. Setelah beberapa kali ke rumah itu, dan akrab dengan sang pemilik rumah, ia mendapat kepercayaan untuk tinggal di situ selama pemiliknya ke Jakarta untuk melahirkan. Ketika tinggal di rumah itu, Wis kembali bisa merasakan hawa-hawa aneh seprti masa kecilnya. Ia juga bisa mendengar suara adik-adiknya serta bercakap-cakap dengan bahasa masing-masing. Tiba-tiba Wis mendengar suara minta gadis tolong dan iapun berlari ke sumber suara sampai di sebuah sumur di tengah hutan. Setelah itu Wis berteriak minta tolong pada warga sekitar. Dan setelah warga berdatangan,ternyata tak seorangpun berani masuk menolong si gadis. Wis memberanikan diri melakukan itu, Ia dan gadis itu selamat. Gadis itu bernama Upi, Ia adalah manusia yang keejiwaanya terganggu dan tidak mengerti bahasa manusia. Ketika Wis mengembalikan Upi kepada orang tuanya, baru ia ketahui bahwa Upi diasingkan oleh ibunya di rumah pemasungan yang sangat kecil, tidak lebih dari baik dari kandang kambing. Merasa tidak tega, dan sedikit demi sedikit muncul rasa sayang dihatinya, Wis membuatkan rumah pasung baru untuk Upi yang lebih besar dan nyaman. Tidak hanya itu yang ia lakukan, Melihat keadaan perkebunan di sana ia merasa prihatin. Ia jug takut jika mereka pindah dari situ Upi tidak akan mendapat rumah yang lebih baik dari sekarang. Kemudian dengan izin dari Uskup untuk berkarya di perkebunan, Wis membuat tempat pengolahan karet sederhana untuk wilayah Lubukrantau itu dan membuat pembangkit listrik.
Suatu ketika, kerusuhan terjadi. Pembangkit listrik buatan Wis dirusak orang. Dan ternyata orang tersebut adalah orang suruhan perusahaan kelapa sawit yang ingin membeli lahan perkebunan karet dan hanya Wis beserta keluarga Upi sangat kokoh untuk tidak menjual lahan mereka. Para pembeli itu merasa geram, mereka mengumpulkan perempuan dan anak kecil dalam surau kemudian membakar seluruh rumah warga dan menculik Wis ke penjara pengasingan. Di situ Wis disiksa habis-habisan dan dipaksa mengakui apa yang tidak ia lakukan. Ia terpasa mengarang cerita untuk mengurangi penyiksaan bahwa ia adalah komunis yang hendak mengkristenkan para petani Lubukrantau, membuat Sorga di bumi dan ingin mengganti presiden. Ia terus melakukan itu sampai suatu hari, tempat penyekapannya itu terbakar. Ia merasa terjebak oleh api, namun setelah mendengar suara-suara masa kecilnya, tanpa ia ketahui caranya, ia selamat dari lahapan api itu, dan Ia dibawa ke rumah sakit oleh Anson dan kemudian dirawat oleh suster-suster gereja. Namun keberadaanya di sembunyikan sampai ia sembuh setelah dirawat selama tiga bulan.Dia mengganti kartu identitasnya sampai kasusu itu selesai sekitar dua tahun kemudian ia mengganti namanya menjadi Saman.
            Kemudian ia pun mengririm surat pada ayahnya, agar ayahnya mempercayainya dan meminta maaf atas segala yang terjadi dan berita berita yang beredar tidak mengenakan dan meminta sejumlah uang untuk keperluan usahanya untuk kegiatan sosialnya. Kemudian Wis kembali terlibat masalah di medan yang membuatnya menjadi buronan, dan akhirnya Yasmin pun menolong Wis atas usul semua temannya di Palembang. Dia mengusulkan untuk agar Wis pergi dari Indonesia. Ia pun membantu semua persiapan yang dibutuhkan atas penyamaran Wis. Bersama Cok ia berhasil melarikan Wis tanpa seorang pun yang tahu. Namun di tengah perjalan itu, Yasmin tak kuasa menahan perasaan sedihnya terhadap kepergian Wis. Mereka akhirnya melakukan hubungan terlarang yang tidak seharusnya dilakukan.
Akhirnya Wis yang berhasil melarikan diri. Dia pun kini menjadi sangat dekat dengan Yasmin dan sangat mencintai Yasmin. Perasaan dan nafsu yang selama ini di pendam selam ia menjadi pastor, kini berubah menjadi perasaan penuh cinta terhadap Yasmin.

2.3  Analisis Unsur Intrinsik

2.3.1        Tema                         
Tema dalam novel Saman karya Ayu Utami adalah  Persahabatan yang dilatar belakangi kisah tentang cinta, seks, Tuhan, agama, negara, ketidakadilan, spiritualitas, serta perjuangan akan nilai kemanusiaan.
Karena novel Saman sebenarnya adalah mengisahkan empat orang sahabat yang terjalin sudah cukup lama, dari SD hingga usia 30 tahunan, yaitu Yasmin Minongka seorang pengacara sukses. Laila seorang penulis dan fotografer. Shakuntala seorang penari yang sedang menempuh studi master di New York. Dan Cok seorang pengusaha sukses. Tetapi tokoh utama dalam novel ini adalah Saman atau Wisanggeni, seorang Pastor yang beralih jadi aktivis Hak Asasi Manusia. Dari kisah 4 orang sahabat dan seorang Pastor telah mengalami banyak kejadian- kejadian berupa seks, negara, bahkan Tuhan dan lain lain.  Berikut ini bukti tema:
·         Persahabatan
Kami berteman sejak SD. Waktu itu akulah yang paling jangkung diantara mereka. Laila yang paling kecil. Yasmin yang paling bagus nilai rapornya. Cok yang paling genit (Saman, hal. 147)
 Tahu – tahu usia kami sudah tiga puluh. Cok sudah berdamai dengan orang tuanya. Yasmin tak lagi menganggap guru sebagai musuh, sebab ia sudah lulus. (Saman, hal. 154)

·         Cinta
Aku Cuma ingin sama –sama dia”.
“Laila, kalu kamu kencan dengan dia disini, kamu pasti akan begituan lho! Udah siap?”
(Saman, hal. 145)
Kalau kekasihku muncul dari gerbang itu, saya akan katakan padanya, kita sudah tidak berjumpa tiga ratus enampuluh sembilan hari lamanya. (Saman, hal.29)

·         Seks
Namun, tanpa kupahami akhirnya justru akulah yang menjadi seperti anak kecil: terbenam di dadanya yang kemudian terbuka, seperti bayi yang haus. Tubuhku hampir berhimpit. Gemetar, selesai sebelum mulai, seperti tak sempat mengerti apa yang baru saja terjadi. Tapi ia tak peduli, ia menggandengku ke kamar. (Saman, hal. 177)
Saman,
Orgasme dengan penis bukan sesuatu yang mutlak. Aku selalu orgasme jika membayangkan kamu. Aku orgasme karena keseluruhanmu. (Saman, hal. 196)

·         Tuhan
Sakramen presbiterat. Tiga lelaki tak berkasut itu lalu telungkup mencium ubin katedral yang dingin. Mereka telah mengucapkan kaulnya. Pada mereka telah dikenakan stola dan kasula. (Saman, hal. 41)
Yehuda juga mempunyai seorang menantu dikala rambutnya telah memutih. Nama putra sulungnya ,Er, berbuat salah sehingga Tuhan murka dan mencabut nyawanya. (Saman, hal. 187)

·         Negara dan Ketidakadilan
Nuansa politik yang berhubungan dengan negara dengan mengritik kinerja aparat Orde Baru yang kurang becus dalam mengurus masyarakatnya, meskipun penggambarannya tidak secara terang terangan, namun duduk persoalan dalam novel ini sebenarnya mengandung persoalan politik dan kekuasaan. Yang ditunjukan denagn jelas dalam kasus perusahaan perkebunan karet. Dimana para aparat mengklaim tanah tanah penduduk Lubukrantau sebagai tanah perusahaan. Demi membenarkan tindakan itu, para aparat menunjukan surat pengantar dari bapak Gubernur.
Dibuktikan dengan: “ Persoalan itu Bapak tanyakan saja pada Bapak-Bapak di perusahaan. Kami cuma bertugas menjalankan perintah Bapak Gubernur. (Saman, hal. 90)

Perjuangan nilai kemanusiaan
Untuk memperlancar pengambilan hak tanah para aparat menggunakan cara kekerasan. Dimana setiap malam terjadi kasius kekerasan pemerkosaan, dan teror terhadap masyarakat Lubukrantau. Kejadian demi kejadian itu membuat Hati Wis tergerak bersama para pemuda berjuang menuntut keadila. Dibuktikan dengan:
Karena merasa persoalan tak akan segera selesai, Wis pergi ke Palembang, Lampung dan Jakarta, setelah memotret desa dan mengumpulkan data data tentang dusun mereka yang telah maju. Ia mengunjungi kantor kantor surat kabar dan LSM. (Saman, hal. 92)
Lalu didengarnya Anson berpidato. Dilihatnya lelaki itu, yang lebih muda daripada dia, dengan berapi api menjelaskan bahwa perusahaan kelapa sawit yang kini menggantikan PTP dimiliki oleh pengusaha cina. Orang Cina kini menjajah kita. (Saman, hal. 94) 

2.3.2        Amanat
a.       Sebagai pimpinan harus bijaksana dan mau mendengarkan pendapat anggotanya. Karena didalam novel tersebut Rosano (pimpinan Suhar) tidak mau mendengar masukan dari Sihar.
Dibuktikan dengan:
“Sekali lagi, risikonya tinggi. Kau boleh coret namaku dari kontrak ini kalau mau terus!”  kata Sihar pada Rosano. (Saman,hal. 14)
b.      Sebagai seorang suami harus setia terhadap pasanganya. Seperti halnya Sihar dalam novel Saman yang tergoda oleh Laila.
Dibuktikan dengan:
Di perjalanan pulang dia bilang, sebaiknya kita tak usah berkencan lagi (saya tidak meyangka). “Saya sudah punya istri.”
Saya menjawab, saya tak punya pacar, tetapi punya orang tua “Kamu tidak sendiri, saya juga berdosa” (Saman, hal. )
c.       Jangan memperlakuan orang yang keterbelakangan dengan semena-mena. Karena orang gila (Upi) pun mempunyai hak untuk hidup.
Dibuktikan dengan:
....Semula dengan balok kayu yang mengapit pergelangan kakinya. (Saman, hal. 70)
d.      Bagi pemerintah untuk memikirkan nasib rakyat yang tertindas.
Hal ini terdapat pada bagian cerita mengenai penduduk Lubukrantau yang ditindas oleh aparat dan diperlakukan secara semena mena.
Bapak di perusahaan. Kami cuma bertugas menjalankan perintah Bapak Gubernur. (Saman, hal. 90)
e.       Secara garis besar kita dapat melihat adanya suatu perjuangan, pengorbanan, keikhlasan sebagai amanat yang terkandung dalam novel Saman. Namun tidak dapat menutup mata bahwa novel Saman juga banyak mengulas mengenai sex, bahkan secara vulgar, yang amantnya hanya diperoleh bagi pembaca yang benar benar sudah dewasa.
Dibuktikan dengan: Ia telah memutuskan:meringankan penderitaan si gadis dengan membangun sangkar yang lebih sehat dan menyenangkan,(Saman, 74)
Perjuangan dibuktikan dengan: Ia mengunjungi kantor kantor surat kabar dan LSM. (Saman, hal. 92)
Lalu didengarnya Anson berpidato. Dilihatnya lelaki itu, yang lebih muda daripada dia, dengan berapi api menjelaskan bahwa perusahaan kelapa sawit yang kini menggantikan PTP dimiliki oleh pengusaha cina. Orang Cina kini menjajah kita. (Saman, hal. 94) 


2.3.3        Tokoh Penokohan

a.      Tokoh Utama
1)      Laila
Laila wanita rela berkorban pada orang yg dicintainya, dan sangat baik terhadap lelaki yang dicintainya.
Ini dikutip :
Tapi temanku Laila tidak bahagia di New York. Ia memang pantas tidak bahagia. Ia sudah melepaskan beberapa proyek di Jakarta, menguras sebagian tabungannya. Ia bukan orang yang bisa begitu saja membeli tiket seharga dua ribu dolar. Tetapi lelaki yang ditunggunya di Central Park tidak juga memberi isyarat.
(Saman, hal. 144)
Seyiap kali mencintai Laila begitu penuh perhatian. Jika hari ini si pria bilang kepingin sop konro atau toge goreng, kaset atau kompakdisk lagu baru atau lam atau pernik lain, dia akan berusaha mempir dan membelikannya.(Saman, hal. 155)

Membenci lelaki saat kecil
Dibuktikan dengan;
Menurut Laila, laki lakilah penjahat ulung yang mesti dicurigai (Saman, hal. 147)
2)      Sihar
Sihar lelaki yang dicintai Laila namun sudah beristri,badannya kekar,  tidak putih, berkacamata, kalem, beberapa helai uban telah tumbuh, dan ada yang khas  yaitu bau  tembakau atau keringat. Dibuktikan dengan:
Ia mendongak ke arah Laila selintas saja, mengelibatkan pantulan cahaya dari kacamatanya, lalu kembali membungkuk, memeriksa mesin tadi. Laki laki itu telah melepaskan bagian atas bajunya dan membiarkannya bergantung lepas dari pinggangnya, sehingga kita bisa melihat tengkuknya yang gosong, lebih gelap dibanding lengannya.... (Saman, hal. 10)

Lelaki itu memang selera temanku: atletis. Tidak putih, berkacamata, kalem, beberapa helai uban telah tumbuh dan ada odor yang khas  - tembakau atau keringat. (Saman, hal.131)

Sifatnya yang lain dijelaskan pada pikiran tokoh lain :
Buatku, dia terlalu serius, kurang imajinasi, lambat mengolah humor sehingga selalu terlambat tertawa – kadang sama sekali tak paham apa yang kami leluconkan. Berhubungan seks dengannya pasti tidak imajinatif dan tak ada pembicaraan post – orgasme yang menyenangkan. Tapi bukan itu yang membuatku keberatan, meski aku tak tahu apakah aku punya hak untuk keberatan.
( Saman, hal. 132 )

Sihar orang yang bisa bicara dengan kata kasar kepada atasan atau dalam pekerjaan, seperti kepada Rosano. Tetapi dengan perempuan tak ada satu patah omongannya keluar. Tidak juga ada canda yang cabul. ( Saman, hal. 25 )
3)      Saman ( Athanasius Wisanggeni ) 
Orang yang pemberani dan banyak ide
Dibuktikan dengan: “Dia... dia orang yang banyak ide dan berani. Namanya Saman”. Dulu namanya bukan Saman. (Saman, hal. 23).

Tubuhnya kurus dan dekil.
Dibuktikan dengan: Tak tau bagaimana Yasmin tertarik padaku yang kurus dan dekil? Ia begitu cantik dan bersih. (Saman, hal. 177)

Begitu perhatian dan menyayangi sesama manusia.
Seperti dalam kutipan: Semakin aku terlibat dalam penderitaanmu, semakin aku ingin bersamamu. Dan Wis selalu kembali ke sana. Kian ia mengenal perkebunan itu, kian ia cemas pada nasib si gadis.(Saman, hal. 79 ).

4)      Yasmin
Perempuan yang cantik berkulit bersih dan berbadan ramping
Dibuktikan dengan: Yasmin Minongka adalah perempuan yang mengesankan banyak lelaki karena kulitnya yang bersih dan tubuhnya yang langsing. (Saman, hal. 24)

Yasmin seseorang yang pintar dan kaya. Dijuluki the girl who has everthing. Menjadi seorang pengacara.
Dibuktikan denagn kutipan: Yasmin adalah yang paling berprestasi dan paling kaya diantara teman terdekat saya. Kami menjulukinya the girl who has everything. Ia kini menjadi pengacara di kantor ayahnya sendiri(Saman, hal. 24)

Sejak kecil, ia dibentuk orang tuanya untuk menghabiskan waktu dengan hal yang produktif. Ibunya memaksanya kursus balet, piano, berenang, dan bahasa Inggris sejak kelas 2 SD, dan ia menjadi serba bisa. Ia tak pernah mengerjakan pekerjaan rumah di sekolah. Pengetahuannya yang luas kadang membuat dia menjadi teman bicara yang melelahkan karena ia suka memborong pembicaraan.
Dibuktikan dengan: Sejak kecil, ia dibentuk orang tuanya untuk menghabiskan waktu dengan hal yang produktif. Ibunya memaksanya kursus balet, piano, berenang, dan bahasa Inggris sejak kelas 2 SD, dan ia menjadi serba bisa. (Saman, hal. 146)

5)      Cok
Seorang yang periang dan ringan hati.
Dibuktikan dengan: Dia periang dan ringan hati. Berada bersamanya orang akan merasa bahwa hidup ini enteng....
(Saman, hal 146)

Genit
Dibuktikan dengan: Yasmin yang paling bagus nilai rapornya. Cok yang paling genit (Saman, hal. 147)

Suka berganti ganti pasangan.
Dibuktikan dengan: Juga tidak ada cinta yang tahan lama seperti manisan dalam botol selai. (Saman, hal. 146)
Cok sudah lima kali delpan kali pacaran dan masih belum juga puas.(Saman, hal. 147)

6)   Sakuntala
Seseorang yang hidupnya penuh kebebasan, sahabat dari Laila, Cok, dan Yasmin. Sakuntala sangat menyayangi Laila.
Dibuktikan dengan: Tapi ia menemaniku. Namanya Laila. Sejak saat itu ia menjadi sahabatku. (Saman, hal. 121)

Sangat membenci ayahnya.
Dibuktikan dengan: Terutama juga agar aku bisa pergi amat jauh dari ayahku  dan kakaku yang tidak kuhormati. (Saman, hal.137)


b.      Tokoh Pembantu
1)      Rosano
·         Atasan Sihar, seorang yang ramah, manis, tetapi angkuh. Putra seorang pejabat Departemen Pertambangan.
Dibuktikan dengan: Rosano menyapa dengan gayanya yang khas:ramah, manis, angkuh. Belakangan Laila mendengar dari Sihar bahwa lelaki itu adalah putra seorang pejabat Departemen pertambangan. (Saman, hal.13)
·         Seorang pemimpin yang tidak bijaksana,
Dibuktikan dengan: “Kami tidak berani memulai sekaran. Resikonya cukup tinggi”. Rosano langsung membantah “Sekali lagi bukan tugas kamu memutuskan. Hubungi mud longger.” (Saman, hal. 14)
2)      Upi
Merupakan orang yang mengalami keterbelakangan mental.
Dibuktikan dengan: Kemudian si ibu bercerita tentang anak perempuan yang gila. (Saman, hal. 71)

Sangat haus akan seks.
Dibuktikan dengan: dia malah suka merancap dengan pohon pohon itu, menggosok gosok selangkangannya, untung tanpa membuka celana. (Saman, hal. 71)
Karena ia juga memperkosa dan menyiksa trenak tetangga kami terpaksa memasungnya. (Saman, hal. 71)

3)   Anson
Kakak Upi yang pekerja keras matanya buta sebelah.
Dibuktikan denagn: Anson abangnya,memarahinya dan mencoba menyelamatkan bebek itu. (Saman, hal. 72)
Tetapi Upi mengambil asam sulfit untuk mengencerkan karet  dan menyiram ke wajah kakanya sendiri hingga rusak dan buta matanya yang kiri (Saman, hal. 72)

sangat menyayangi istrinya.
Dibuktikan dengan: Wis melihat anson menghapus isisa sperma di paha istrinya dan menjadi begitu gundah.

4)      Mak Argani
Ibu Upi yang baik hati.
Dibuktikan dengan: Mak argani serta beberapa ibu merawat istri Anson disana yang lain engabsen gadis gadis. (Saman, hal. 98)

5)      Hasyim Ali
Sahabat dekat Sihar yang sangat menyayangi keluarga dan pekerja keras.
Dibuktikan dengan: Ia berasal dari lingkungan petani kecil kelapa di Sumatra Selatan sehingga dengan penghasilannya sebagai buruh minyak, sekitar satu setengah sampai dua juta rupiah sebulan, dia adalah penopang utama ekonomi keluarga. (Saman, hal 20)



2.3.4   Latar
a.       Latar tempat
Latar tempat Novel  Saman Yang pertama adalah di New York, kemudian di Laut Cina Selatan, Pulau Matak dan  di Prabumulih suatu tempat di Palembang di daerah perkebunan karet. Dapat dibuktiakan dengan:
Di New York, digambarkan :
Di taman ini hewan hanya bahagia, seperti saya, seorang turis di New York. Apakah keindahan perlu dinamai? Saya akan pacaran, seperti burung berbusung bersih di ranting tadi. Saya akan pelukan, ciuman, jalan – jalan, dan minum di Russian Tea Room beberapa blok ke barat daya. Mahal sedikit tidak apa – apa.
(Saman, hal. 2)
Dan kita di New York. Beribu – ribu mil dari Jakarta. Tak ada orang tua, tak ada istri. Tak ada dosa. Kecuali pada Tuhan, barangkali. Tapi kita bisa kawin sebentar, lalu bercerai. Tak ada yang perlu ditangisi. Bukankah kita saling mencintai? Atau pernah saling mencintai? Apakah Tuhan memerintahkan lelaki dan perempuan untuk mencintai ketika mereka kawin? Rasanya tidak .
( Saman, hal. 30 )

Di Laut Cina Selatan digambarkan dengan:
LAUT CINA SELATAN, Februari 1993
Dari kejauahan, sebuah ring nampak seperti kotak perak di tengah laut lapis lazuli. Helikopter terbang mendekat dan air yang semula nampak tenang sebetulnya terbentuk dari permukaan yang bergejolak, kalem namun perkasa, seperti menyembunyikan kekuatan yang dalam.
(Saman, hal. 7)

Di Pulau Matak dapat dibuktikan dengan:
PULAU MATAK, ESOK HARINYA
Tangnmu luka. Sihar terus memukul bangku mika di Bandara yang keci, sehingga kulit ari dibuku jarinya lecet. (Saman, hal. 17)

Prabumulih digambarkan sebagai berikut:
Prabumulih masih kota minyak di tengah Sumatera Selatan yang sunyi masa itu. Cuma ada satu bioskop, sehingga orang – orang biasa membawa anak – anak bertamasya ke rig di luar kota, melihat mesin penimba minyak mengangguk – angguk seperti dinosaurus. Hiburan menegangkan lain adalah lutung atau siamang yang mendadak turun dari pepohonan.
(Saman, hal. 45)

Palembang
Adalah tempat Laila meminta bantuan kepada Saman dan Yasmin.
Dibuktikan dengan: Dari Pelembang, saya menghubungi kedua teman saya. (Saman, hal. 23)

b.      Latar waktu
Latar waktu pada Novel Saman adalah dari tahun 1962 – 1996 saat-saat akhir dari Orde Baru. Tahun 1962 ketika Saman masih kecil sampai tahun 1996 ketika Laila menunggu kepastian dari orang yang dicintainya, yaitu Sihar.
 Dibuktikan dengan:
Di halaman 44 ditulis : Prabumuli 1962.
Dan di halaman pertama ditulis : Central Park, 28 Mei 1996.
6)      Latar Suasana
Latar suasana pada keseluruhan cerita adalah kegelisahan dan masalah masalah kompleks  para tokohnya yang mempertentangkan hati nurani namun di tambah dengan suasana perkebunan yang mengalami masalah. Misalnya dari tokoh Saman yang mengalami banyak sekali kejadian yang membuat dirinya harus melawan emosinya atau gejolak hatinya sendiri, diantaranya adalah pada saat Saman atau Wisanggeni bertemu dengan Upi gadis yang mengalami keterbelakangan mental, di sini Wisanggeni sendiri tidak paham terhadap jalan pikirannya dia begitu ingin melindungi Upi tapi tak mengerti atas dasar apa dia melakukannya seperti ada kegelisahan dalam dirinya.
Dibuktikan dengan: Wis merasa bahwa ia menyayangi gadis ini. Terkadang dipandanginyaanak itu, dengan heran menyadari bahwa kasih datang dengan cara  yang aneh setelah kita terlibat dalam suatu kesedihan. (Saman, hal. 76)
Kegelisahan juga dialami Laila yang mencintai seorang yang sudah beristri dan antara menyayanginya dan menyayangi orangtuanya, hanya mencintainya atau melepas keperawanannya.
Dibuktikan dengan: Aku tidak akan menganggu istrinya. Aku Cuma ingin ketemu dia. Aku tak akan menggangu keluarganya. (Saman, hal.123)

2.3.5        Alur
Dalam novel Saman, penulis menggunakan Alur Campuran atau Gabungan. Karena jelas sekali dalam novel Saman ini penulis membuat latar waktu yang berbolak balik. Pada awal cerita penulis mengawalinya dengan tahun 1996 ketika Laila sedang berada di New York untuk menunggu Sihar, kemudian penulis menceritakan awal mula pertemuan antara Laila dan Sihar pada tahun 1993 di pertambangan sekitar Laut Cina Selatan. Selanjutnya penulis menceritakan sosok Wisanggeni yang menjadi pastur pada tahun 1983 kemudian penulis menceritakan kejadia kejadian yang dialami Wisanggeni di masa kecilnya di daerah Perabumulih tahun 1962 setelah itu kembali ke tahun 1984 ketika Wis di tempatkan untuk menjadi Pastur di Perabumulih setelah lama ditinggalkannya. Setelah penulis menceritakan perjalanan hidup Wis sampai mengubah namanya menjadi Saman, kemudian alur cerita kembali lagi ke tahun 1996 di New York. Kemudian penulis menceritakan surat Wisanggeni untuk ayahnya tahun 1990 dan yang terakhir penulis membawa kita ke New York 7 Mei 1994 yang mengisahkan tentang Saman dan Yasmin. Demikian alur dalam novel Saman yang dibuat dengan sangat kompleks membuat pikiran pembacanya membolak balikan waktu kejadian dan memahaminya dengan mengurutkan urutan waktu yang sebenarnya.

2.3.6        Sudut Pandang
Dalam novel “Saman” ini penulis menggunakan sudut pandang campuran, karena pada awal cerita menggunakan kata ganti orang pertama, yaitu “aku” dan saya. Seperti dikutip:
Di taman ini, saya adalah seekor burung. Terbang beribu – ribu mil dari sebuah negeri yang tak mengenal musim, bermigrasi mencari semi, tempat harum rumput bisa tercium, juga pohon – pohn, yang tak pernah kita tahu namanya atau umurnya. (Saman, hal. 1)
Namun pada pertengahan cerita, penulis menceritakan orang lain serba tahu, sehingga menjadi sudut pandang orang ketiga ‘dia’.
Dibuktikan dengan kutipan: Barangkali dia beruntung. Dia adalah satu-satunya anak yang berhasil lahir dari rahim ibunya dan hidup. Dua adiknya tak pernah lahir, satu mati pada hari ketiga. (Saman, hal. 44)

2.3.7        Gaya Bahasa

Gaya Bahasa pada novel Saman Sangat mempengaruhi kevariatifan alur, kevariatifan ini disebabkan oleh pilihan kata yang sangat komplek dan penggunaan kaliamat yang banyak mengalami penyimpangan kaidah ketatabahasaan. Novel Saman juga banyak menggunakan bahasa figuratif supaya dapat menghasilakn pengolahan dan pembayangan gagasan secara menarik. Seperti metafora pada novel ini yang sanggup memebentuk perbandingan dengan dengan benda yang jauh hubungannya, namun intinya adalah sebagai media penyampaian ide atau gagasan secara imajinatif.  
Dapat dilihat pada kutipan: Perempuan itu membasuh tunas jantan yang menjulur dengan air matanya, lalu mengecupnya dengan air liurnya. Lelaki itu menggeliat. (Saman, hal. 193)

2.4      Analisis Unsur Ekstrinsik

2.4.1 Biografi Pengarang
Ayu Utami yang mempunyai nama lengkap Justina Ayu Utami  dikenal sebagai novelis pendobrak kemapanan, khususnya masalah seks dan agama. Ia dilahirkan di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968. Ayahnya bernama Johanes Hadi Sutaryo dan ibunya bernama Bernadeta Suhartina. Ia berasal dari keluarga Katolik.
Pendidikan terakhirnya adalah S-1 Sastra Rusia dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia (1994). Ia juga pernah sekolah Advanced Journalism, Thomson Foundation, Cardiff, UK (1995)  dan Asian Leadership Fellow Program, Tokyo, Japan (1999).  Ayu menggemari cerita petualangan,  seperti Lima Sekawan, Karl May, dan Tin Tin.  Selain itu,  ia  menyukai  musik tradisional dan musik klasik. Sewaktu mahasiswa, ia terpilih sebagai finalis gadis sampul majalah Femina, urutan kesepuluh. Namun, ia tidak menekuni dunia model.
Ayu pernah bekerja sebagai sekretaris di perusahaan yang memasok senjata dan bekerja di Hotel Arya Duta sebagai guest public relation. Akhirnya, ia masuk dalam dunia jurnalistik dan  bekerja sebagai wartawan Matra, Forum Keadilan, dan D & R.  Ketika menjadi wartawan, ia banyak mendapat kesempatan menulis. Selama 1991, ia aktif  menulis kolom mingguan “Sketsa” di harian Berita Buana. Ia ikut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan ikut membangun Komunitas Utan Kayu, sebuah pusat kegiatan seni, pemikiran, dan kebebasan informasi, sebagai kurator.  Ia anggota redaktur Jurnal Kalam dan peneliti di Institut Studi Arus Informasi.
Setelah tidak beraktivitas sebagai jurnalis, Ayu kemudian menulis novel. Novel pertama yang ditulisnya adalah  Saman (1998). Dari karyanya itu, Ayu menjadi perhatian banyak pembaca dan kritikus sastra karena novelnya dianggap sebagai novel pembaru dalam dunia sastra Indonesia. Melalui novel itu pula, ia memenangi Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1998. Novel tersebut mengalami cetak ulang lima kali dalam setahun. Para kritikus menyambutnya dengan baik karena novel Saman memberikan warna baru dalam sastra Indonesia. Karyanya yang berupa esai kerap dipublikasikan di Jurnal Kalam. Karyanya yang lain, Larung, yang merupakan dwilogi novelnya, Saman dan Larung, juga mendapat banyak perhatian dari pembaca.
Novel Saman tentunya sangat terpengaruh besar oleh perjalanan hidup  Ayu Utami dari sekolahnya yang mengambil jurusan sastra sehingga tidak susah bagi penulis untuk menulis dengan gaya bahasa yang bernilai sastra tinggi, kemudian ia juga pernah bersekolah Advanced Journalism, Thomson Foundation, Cardiff, UK (1995)  dan Asian Leadership Fellow Program, Tokyo, Japan (1999), sehingga dia telah mengenal dunia tulis menulis dengan cangkupan yang lebih luas,lalu ia berkarir menjadi wartawan yang tentunya berpengaruh besar terhadap novel Saman. Agama penulis juga sangat berpengaruh besar terhadap isi Novel Saman yang banyak menceritakan tentang kehidupan seorang pastor, aktifis greja dan banyak  istilah – istilah dalam agama Katolik yang dimunculkan dalam novel Saman.
Dibawah ini dipaparkan lebih singkat mengenai seorang Ayu Utami:
a.      Karier dan kegiatan
·         Wartawan lepas Matra
·         Wartawan Forum Keadilan
·         Wartawan D&R
·         Anggota Sidang Redaksi Kalam
·         Kurator Teater Utan Kayu
·         Pendiri dan Anggota Aliansi Jurnalis Independen
·         Peneliti di Institut Studi Arus Informasi

b.      Karya
·         Novel Saman, KPG, Jakarta, 1998
·         Novel Larung, KPG, Jakarta, 2001
·         Kumpulan Esai "Si Parasit Lajang", GagasMedia, Jakarta, 2003
·         Novel Bilangan Fu, KPG, Jakarta, 2008
·         Novel Manjali Dan Cakrabirawa, KPG, Jakarta, 2010
·         Novel Cerita Cinta Enrico, KPG, Jakarta, 2012
·         Novel Soegija: 100% Indonesia, KPG, Jakarta, 2012
·         Novel Lalita, KPG, Jakarta, 2012
·         Novel Si Parasit Lajang: , KPG, Jakarta, 2013
·         Novel Pengakuan: Eks Parasit Lajang, KPG, Jakarta, 2013
·          Esai  Si Parasit Lajang (2003)
·         Biografi  Cerita Cinta Enrico (2012)
·         Biografi Soegija: 100% Indonesia (2012)


c.       Penghargaan
·         Pemenang  Sayembara Penulisan Roman Terbaik Dewan Kesenian Jakarta tahun 1998 untuk novelnya Saman
·         Prince Claus Award dari Prince Claus Fund, sebuah yayasan yang bermarkas di Den Haag, tahun 2000
·         Penghargaan Khatulistiwa Literary Award tahun 2008 untuk novelnya Bilangan Fu


2.4.2 Psikologi Pengarang
Psikologi pengarang maupun penerapan prinsip-prinsip psikologi dalam karyanya tampak dalam karya sastra Ayu Utami yang muncul pada tahun 1998, karena pada masa itu telah runtuh rezim orde baru yang tidak hanya membawa kebebasan untuk bersuara, berpendapat dan berekspresi, Namun juga turut mempengaruhi perkembangan sastra Indonesia. Perkembangan ini ditandai dengan banyak bermunculan pengarang dan sastrawan baru yang kritis dan lugas dalam mengeluarkan karya-karya sastra yang bersifat experimental dengan menyuarakan kondisi-kondisi sosial yang selama ini menjadi hal tabu untuk dibicarakan untuk diangkat sebagai karya sastra. Ayu Utami adalah satu diantara sastrawan baru yang memulai karir dalam kesusastraan Indonesia, dengan karyanya Saman yang telah mengulas hal-hal tabu yang dulunya masih sangat tidak pantas dijadikan karya sastra. Dan Ayu Utami juga telah mempelopori kebebasan dalam mengekspresikan karya sastra. Hal ini disebabkan pandangan hidup seorang Ayu Utami yang bebas dan memiliki pikiran kritis terhadap pemerintah dan ia juga seorang Katolik yang taat agama membuat karyanya Saman banyak diwarnai oleh pemikiran yang luar biasa yang dituangkan secara terang-terangan.
2.4.3 Lingkungan Masyarakat
Karya Ayu Utami ini mencerminkan masyarakat pada tahun 1998 yang sangat haus akan istilah demokrasi, kehidupan masyarakat pada sekitar tahun 1998 yang sangat ingin bersuara dengan babas namun terbelenggu oleh batasan-batasan yang dibuat pemerintah.Sampai pecahlah revormasi yang tidak hanya membawa kebebasan untuk bersuara, berpendapat dan berekspresi, Namun juga turut mempengaruhi dunia sastra. Sehingga sejak saat itu masyarakat bebas berekspresi sesuai suara hati yang ingin diungkapkan, novel Saman karya Ayu Utami telah menggambarkan kebebasan mengungkapkan segala inspirasi dalam dirinya meskipun sampai kepada hal yang tabu.


BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
            Novel karya Ayu Utami sangat menggambarkan situasi pada zamanya di daerah perkebunan sehingga kita tahu masalah sosial yang terjadi pada masa itu, dan permasalahan individu tokoh- tokohnya yang banyak mengalami gejolak jiwa dapat menjadi pesan tersendiri bagi pembacanya dalam menjalani kehidupan. Yang mempertentangkan norma yang ada dalam masyarakat, misalnya Laila yang tidak seharusnya mencintai dan berkencan dengan pria yang sudah beristri, Kemudian Yasmin yang seharusnya tidak melakukan hubungan intim dengan orang lain, karena dia sudah mempunyai suami, Kemudian Cok yang suka bergonta ganti pasangan, Shakuntala yang begitu membenci orang tuanya dan juga suka bergonta ganti pasangan dan terakhir tokoh utama adalah seorang pastor bernama Saman yang seharusnya tidak pernah melakukan perbuatan zina, namun ia menikmatinya meski tau itu dosa. Dari semua kisah yang di ceritakan penulis di harapkan pembaca dapat mengambil sikap dan menjauhi hal-hal yang tidak baik tersebut. Karena tidak semua yang ditulis pengarang untuk ditiru, namun sebagai pembelajaran untuk kita.

3.2 Saran
            Memperbanyak membaca karya karya sastra supaya kita bisa belajar kehidupan dan mengambil amanat yang terdapat dalam cerita.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar